Ketika sekolah hanya mengejar ranking, siswa hanya disiapkan menjadi mesin kompetisi, bukan manusia berpikir. — Noam Chomsky
Jika boleh jujur, saya termasuk pendidik yang tidak sepakat dengan sistem ranking di kelas. Penolakan ini bukan sekadar persoalan teknis evaluasi, melainkan soal paradigma. Ketika sekolah terobsesi pada peringkat, pendidikan kehilangan ruhnya: membentuk manusia yang sadar dan merdeka berpikir.
Hampir semua orang Indonesia pernah duduk di bangku sekolah. Namun tidak semua orang pernah diajak bertanya: untuk apa sebenarnya kita bersekolah? Apakah untuk memahami kehidupan, atau sekadar mengumpulkan nilai?
Secara etimologis, kata “sekolah” berasal dari bahasa Yunani scholÄ“—yang berarti waktu luang untuk berpikir dan berdiskusi. Dalam Sekolah Itu Candu, Roem Topatimasang menjelaskan bahwa sekolah pada awalnya adalah ruang kebebasan intelektual. Bahkan Plato mendirikan Akademia sebagai tempat dialog, bukan kompetisi angka. Namun wajah sekolah di Indonesia hari ini berbeda.
Ranking dan Budaya Kompetisi Akademik
Meski Kurikulum Merdeka mulai diperkenalkan beberapa tahun terakhir, praktik ranking masih jamak ditemui di banyak sekolah. Peringkat kelas sering diumumkan secara terbuka. Siswa terbaik dirayakan, sementara yang berada di posisi bawah diam-diam memikul label “kurang mampu”.
Padahal, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional secara tegas menyatakan bahwa tujuan pendidikan adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Tidak ada satu pun frasa tentang “menjadi juara kelas”.
Data internasional juga memberi cermin. Hasil Programme for International Student Assessment (PISA) yang diselenggarakan oleh Organisation for Economic Co-operation and Development secara konsisten menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara anggota OECD. Ini menandakan bahwa persoalan kita bukan semata kurangnya kompetisi, tetapi lemahnya pemahaman mendalam dan kemampuan berpikir kritis.
Ironisnya, di tengah capaian literasi yang belum optimal, energi pendidikan justru sering tersedot pada lomba ranking dan nilai rapor. Sekolah sibuk mengejar angka kelulusan dan akreditasi, sementara dialog kritis dan eksplorasi makna kerap terpinggirkan.
Dari “Banking Education” ke Pendidikan Pembebasan
Kritik terhadap sistem yang menekankan hafalan dan angka pernah disampaikan oleh Paulo Freire. Ia menyebut model seperti ini sebagai banking education—pendidikan gaya bank, di mana guru “menyetor” informasi dan siswa menjadi wadah pasif.
Dalam konteks Indonesia, model ini masih terasa. Ujian sering menjadi puncak orientasi belajar. Siswa belajar demi nilai, bukan demi pemahaman. Bahkan kecemasan akademik meningkat setiap kali musim ujian tiba.
Ranking memperkuat pola pikir bahwa nilai adalah identitas. Anak yang nilainya tinggi dianggap cerdas. Anak yang nilainya rendah dianggap gagal. Padahal kecerdasan tidak tunggal. Teori kecerdasan majemuk menunjukkan bahwa kemampuan manusia melampaui sekadar logika-matematis dan linguistik.
Kurikulum Merdeka dan Harapan Baru Pendidikan
Upaya perubahan sebenarnya telah dimulai melalui kebijakan Kurikulum Merdeka yang digagas oleh Nadiem Makarim saat menjabat sebagai Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Kurikulum ini menekankan pembelajaran berbasis proyek, diferensiasi, dan penguatan profil Pelajar Pancasila.
Secara filosofis, arah ini selaras dengan gagasan pendidikan yang memerdekakan. Namun perubahan kurikulum tidak otomatis mengubah kultur. Selama mentalitas kompetisi dan glorifikasi ranking masih dipertahankan, semangat merdeka belajar akan selalu setengah hati.
Mengembalikan Sekolah pada Hakikatnya
Sekolah seharusnya kembali menjadi scholē: ruang berpikir yang bebas dan bermakna. Tempat di mana siswa tidak sekadar dilatih menjawab soal, tetapi diajak mempertanyakan realitas. Tempat di mana guru bukan sekadar pemberi nilai, melainkan fasilitator kesadaran dan akal sehat.
Pendidikan sejati bukanlah arena adu cepat atau ajang perlombaan yang bisa diadili saat itu juga, melainkan pendidikan adalah suatu proses perjalanan menemukan diri sendiri dalam versi sebaik mungkin. Ia membentuk karakter, menumbuhkan empati, dan melatih tanggung jawab sosial. Ranking mungkin menghasilkan kompetitor atau persaingan. Tetapi kesadaran melahirkan manusia benar-benar utuh.
Dan bangsa ini, sejatinya, tidak membutuhkan lebih banyak juara kelas. Bangsa ini membutuhkan lebih banyak manusia yang berpikir.

Posting Komentar