04 April 2025

Merayakan Lebaran: Ada yang Hilang!

Lebaran membawa perantau pulang. Pulang melihat semua yang telah berubah menjadi kenangan.” - merawatingat

Sebagai orang desa yang merantau ke Kota, mudik adalah salah satu budaya yang menjadi kebiasaan masyarakat Indonesia saat menjelang lebaran. Kampung halaman menjadi tujuan setiap orang untuk pulang mengunjungi orang tua dan keluarga. Lebaran menjadi ajang sakral yang tidak boleh dilewatkan oleh seorang perantau untuk bisa berkumpul bersama keluarga di kampung halaman baik untuk silaturahmi maupun bermaaf-maafan.

Istilah Lebaran sebenarnya berasal dari akar kata bahasa jawa “Lebar” yang berarti selesai atau sudah berlalunya bulan puasa Ramadhan menuju hari kemenangan. Lebaran ataupun idul fitri merupakan momen istimewa bagi seorang muslim selain setahun sekali lebaran juga membawa setiap muslim kembali pada kesucian dan kebersihan dari dosa ataupun kesalahan. Sehingga pada momentum tersebut setiap orang memiliki ruang untuk saling bersinergi membangun dan memperkuat persaudaraan. 

Sebagai perantau tentu lebaran sangat dinanti-nanti, ada kebahagiaan tersendiri ketika suasana mudik untuk merayakan hari kemenangan di kampung. Selain jajan khas lebaran, masakan ibu dirumah, dan tentu kita dapat menikmati suasana kampung halaman yang berbeda dengan suasana di kota yang penuh kemacetan dan padatnya kesibukan karena tuntutan pekerjaan. Kita ambil contoh saja di kampung kita akan menikmati hujan dengan kesejukan dan ketentraman, di kota kita akan menikmati hujan beserta banjir yang terjadi dimana-mana. Namun tidak fair jika kita membandingkan hal tersebut, namun pada intinya kampung halaman menjadi tempat paling nyaman untuk kita pulang baik dalam keadaan menang ataupun kalah ketika kita mengais rezeki di perantauan. Jadi pada dasarnya pulang kempung bukan hanya sekedar pulang, namun mempunyai esensi untuk mendekatkan diri dengan keluarga tercinta. 

Namun tahun ini di kampung halaman terasa berbeda, setiap sudut di kampung yang mengisahkan cerita saat masa kanak-kanak hingga remaja namun pada hari ini yang tersisa hanyalah cerita dan kenangannya. Satu persatu teman sepermainan mulai menghilang karena keadaan yang memang memaksa mereka untuk merantau ke kota menjalani pekerjaqn ataupun bahkan karena faktor lain seperti berkeluarga di daerah lain. Setiap sudut di kampung yang mengisahkan banyak cerita, saat ini hanya tersisa kenangannya saja. Pekarangan luas, sawah, lapangan yang biasa menjadi tempat berkumpul dan bermain sekarang menjadi bangunan padat pemukiman, tidak ada ruang lagi. Semua yang pernah menjadi cerita pada masa dulu tidak akan terulang kembali.

Pada akhirnya, pulang di momen lebaran bukan hanya tentang melepas rindu pada keluarga, tapi lebih dalam lagi tentang semua yang kita ingat dikampung halaman seakan membawa kita pada suasana dahulu. Pulang kampung bukan sekadar pertemuan fisik, tetapi juga tentang membawa energi positif dan semangat kebersamaan ke dalam lingkungan keluarga, dan tentu sebagai bentuk refleksi diri darimana sebenarnya kita berasal. Merayakan lebaran di kampung salah bentuk balas dendam paling manis saat kita berbicara rindu. Tidak ada penawarnya selain mudik, lebaran, dan merayakan semuanya disini.

Label:

03 November 2022

Eksistensi Bahasa Slang

 

Pernahkah kalian mendengar istilah atau kosakata : “Anjay”, “Baper”, “Kepo” dan kosakata serupanya dalam setiap percakapannya kawula muda hari ini? Tentu tidak sulit kita menemukan dan mendengar kata-kata tersebut. Disini duduk perkara yang akan kita diskusikan dalam gagasan tulisan ini mengingat kata-kata tersebut merupakan suatu bentuk komunikasi berupa bahasa yang sedang populer dikalangan anak-anak muda di Indonesia.
Meswa, Peserta       event Esai Osaka Student Fair 2022

Bahasa merupakan suatu sarana komunikasi untuk mempermudah manusia dalam berinteraksi antara manusia yang satu dengan yang lainnya, ntah melalui ucapan atau gerakan. Sebagai mahluk sosial tentu penggunaan bahasa sangat dibutuhkan oleh kita. Sejalan dengan hal tersebut dapat kita sepakati jika kita merujuk pada kalimat dimuka, maka bahasa secara pengertian umum dapat diartikan sebagai sistem komunikasi manusia yang dinyatakan melalui susunan suara atau ungkapan tulisan yang terstruktur untuk membentuk satuan yang lebih besar atau bisa dimaknai.

Masing-masing negara atau daerah pasti memiliki bahasa yang berbeda dan beraneka ragam yang bisa membedakan negara satu dengan yang lainnya. Contohnya bahasa orang Portugis, bahasa orang Arab dan bahasa masyarakat Indonesia tentu tidak sama meskipun fungsinya sama yakni sebagai suatu sarana komunikasi dalam setiap hubungan sosial masyarakat. Bangsa Indonesia memiliki bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang wajib kita junjung tinggi martabat dan melestarikan keberadaannya. Bukan tanpa dasar, penggunaan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara ditetapkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 Bab XV Pasal 36 yang menyatakan bahwa : bahasa negara adalah bahasa Indonesia. Bahasa- bahasa lain yang merupakan bahasa penduduk asli seperti bahasa Jawa, bahasa Sunda, bahasa Bali, dan sebagainya berkedudukan sebagai bahasa daerah. Perhari ini penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar mendapat tantangan serius dari adanya keberdaan bahasa gaul atau istilah lainnya adalah bahasa slang. Mungkin sebagian besar masyarakat belum tahu pasti tentang apa itu slang namun seringkali terdengar di media sosial dan keseharian kita. Lalu apa itu bahasa slang ?.


Dalam pendapat Chaer dan Agustina (2004: 67) mengatakan bahwa slang merupakan variasi sosial yang mempunyai sifat rahasia dan khusus. Oleh sebab itu, variasi bahasa slang ini dipakai oleh kalangan tertentu saja bersifat terbatas serta tidak boleh diketahui oleh kalangan diluar kelompoknya (Ramendra, D, 2019: 67). Aswin (2015: 143) mengatakan bahwa slang merupakan bahasa gaul yang tidak baku serta digunakan dalam komunikasi sehari-hari oleh kelompok   sosial   tertentu   atau   kalangan   remaja.   Dikutip   dari   laman   wikipedia.org slang adalah ragam bahasa musiman yang dituturkan oleh kelompok sosial tertentu dalam situasi informal yang biasa disebut bahasa gaul. Di era modern dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menyebabkan banjir informasi biasa tentu remaja dan kawula muda akan sangat mudah terjangkit oleh kawula muda hari ini terutama dalam setiap komunikasi mereka di media sosial baik itu pada aplikasi tiktok, facebook, instagram, whatsApp dan aplikasi-aplikasi lainnya.

Penggunaan kosa kata slang sebenarnya sudah lama sekali hanya saja penyebutan istilah- istilahnya berbeda di setiap masa. Kosakata slang sering digunakan oleh anak muda, hingga kemudian menjadi kata baru dalam Kamu Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Bagi para remaja generasi muda, kosakata gaul atau slang sudah biasa digunakan dalam percakapan dan interaksi sehari-hari kepada teman sebaya, kakak, ataupun adik baik secara lisan maupun tulisan dan hari ini sering kita dengan dan kita jumpai ketika anak muda saling berkomunikasi. Kosakata slang juga akan bertambah dan berubah seiring lahirnya generasi baru. Sebagai contoh ketika pada akhir tahun 1980-an lahirlah kosakata “bokap” dan “nyokap” dan pada akhir tahun 2000-an munculah kata “ mager” yang berarti malas gerak dan juga “jomblo” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) disebut jomblo yang artinya pria atau wanita yang belum memiliki pasangan hidup. Bahasa slang atau gaul sangat mudah untuk menyebar karena adanya internet dan jaringan sosial, semakin meluasnya internet dan jaringan sosial maka penyebaran bahasa gaul juga akan semakin cepat. Media sosial telah menjadi kebutuhan di kalangan masyarakat khususnya generasi milenial yang dapat memberikan pengaruh kuat dalam penggunaan bahasa Indonesia. Bahasa gaul yang digunakan secara terus menerus akan menyebabkan anak muda tidak tahu-menahu mengenai kosakata yang baku serta bahasa yang baik dan benar.

Akhir-akhir ini masyarakat sudah banyak yang menggunakan bahasa gaul dan parahnya lagi generasi muda Indonesia juga tidak terlepas dari pemakaian bahasa gaul bahkan generasi


muda inilah yang banyak menggunakan bahasa gaul daripada pemakaian Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Pengaruhnya, eksistensi Bahasa Indonesia akan terancam musnah jika penggunaan bahasa gaul lebih dipertahankan daripada penggunaan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan satu sama lain. Semakin lama bahasa Indonesia akan semakin hilang dikarenakan adanya bahasa gaul. Remaja akan kurang paham menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Penggunaan bahasa slang tentu diperbolehkan, asalkan dipakai pada saat situasi yang dan kondisi yang tepat, media yang tepat, dan komunikan yang tepat . Jadi bahasa slang tidak perlu kita hindari sepenuhnya karena bahasa slang juga memiliki manfaat positif yang bisa kita dapat sekalipun manfaat negatifnya juga ada.

Dampak positif penggunaan bahasa slang membuat para kawula muda menjadi lebih kreatif karena seperti bahasa slang yang sudah banyak digunakan, bahasa gaul memiliki ciri ciri yaitu singkat, lincah,dan kreatif, sementara kata yang agak panjang akan diperpendek melalui proses morfologi atau menggantinya dengan kata yang lebih singkat. Sehingga dengan menggunakan kosakata slang dalam setiap komunikasi dapat menimbulkan keakraban dalam antar sesama remaja agar lebih leluasa dan merasa lebih nyaman jadi ada cara pendekatan emosional yang baik untuk kebersamaan dan kerukunan dalam hidup berdampingan.

Manfaat negatifnya, bahasa slang dapat mempersulit penggunaan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar biasanya digunakan pada saat presentasi sekolah, mengirim sebuah tugas yang diberikan oleh guru mata pelajaran, dan biasanya juga lebih sering digunakan pada saat memasuki jenjang kerja. Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar juga dapat mengakibatkan berkurangnya minat generasi muda untuk mempelajari Bahasa Indonesia yang baik dan benar,   generasi muda cenderung untuk lebih menyukai sesuatu yang modern atau maju dalam berkomunikasi dengan masuknya budaya-budaya asing dan bahasanya tentunya lebih menarik bagi sebagian besar generasi muda. Bahasa gaul juga bisa mengancam kedudukan Bahasa Indonesia yang lama-kelamaan akan terkikis oleh generasi muda yang justru lebih mengembangkan bahasa gaul. Dari banyaknya penggunaan bahasa gaul yang tersebar secara luas betapa seriusnya dampak yang ditimbulkan oleh penggunaan bahasa gaul terlebih lagi jika kita sudah terbiasa menggunakan bahasa gaul. Hal itu juga bisa mengakibatkan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar tidak dianggap


penting lagi oleh masyarakat luas, maka dari itu sudah seharusnya kita menyikapi pengaruh penggunaan bahasa gaul terhadap penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.

Tanpa kita sadari ternyata bahasa gaul bisa masuk ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dengan catatan jika kosakata tersebut mengandung kata yang unik dan konsep atau artinya belum dimiliki oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Dikutip dari BIPA Kemdikbud terangkum sudah ada 16 kosakata slang yang sudah masuk KBBI diantaranya :

 

No

Kata

Arti

1

Alay

gaya hidup yang berlebihan untuk menarik perhatian

2

Ambyar

bercerai-berai; berpisah-pisah; tidak terkonsentrasi lagi

3

Bokap

Ayah

4

Cie

kata seru yang digunakan untuk memuji atau menggoda seseorang agar tersipu

5

Gebetan

seseorang yang sering ditaksir atau disukai

6

Julid

iri dan dengki dengan keberhasilan orang lain

7

Kepo

rasa ingin tahu yang berlebihan

8

Kicep

diam karena takut atau gelisah

9

Lebay

Berlebihan

10

Mager

Malas bergerak

11

Maksi

Makan siang

12

Meme

cuplikan dari gambar atau gambar-gambar buatan sendiri

13

Nyokap

Ibu

14

Pansos

usaha yang dilakukan untuk mencitrakan diri sebagai orang yang mempunyai status

sosial tinggi

15

Pulkam

Pulang kampung

16

Saltik

salah ketik

Dengan terhimpunnya beberapa kosakata slang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tentunya membuat kosakata dalam Bahasa Indonesia semakin kaya dan berwarna tinggal bagaimana cara menggunakannya melihat situasi dan kondisi serta lawan bicara yang dihadapi. Tidak semua penggunaan kosakata slang itu negatif, ada sisi yang lain yang perlu kita ambil dan dalami hikmahnya. Karena selain menciptakaraban (mudah akrab) kosakata slang juga menjadi alat pemersatu bangsa sehingga dalam penggunaan kata-kata trend tesebut semua kawula muda menjadi dekat yang berdampak pada emosionalnya. Namun perlu diingat, tidak semua kosakata


slang itu berpangaruh positif dan juga sebaliknya, tidak semua kosakata slang itu berbunyi negatif. Bukti nyatanya diperkuat dengan dimasukannya beberapa kosakata slang ke dalam KBBI yang dapat memperkaya penggunaan kaidah dalam berbahasa Indonesia dan sudah barang tentu bahasa indonesia menjadi suatu bahasa yang komunikatif dan kreatif dalam setiap perkembangannya dengan adanya kosakata slang tersebut tanpa mengancam eksistensi bahasa indonesia.

Selanjutnya para orangtua, guru, dan juga pemerintah sangat dituntut kinerja mereka dalam menanamkan dan menumbuhkembangkan pemahaman dan kecintaan anak-anak Indonesia terhadap Bahasa Indonesia dan kawula muda khususnya dapat mengembangkan bahasa indonesia dengan kreatif dan kaya. Dengan demikian, pemakaian Bahasa Indonesia secara baik dan benar pada saat ini dan pada masa depan dapat meningkat. Menanamkan semangat persatuan dan kesatuan dalam diri generasi bangsa dan juga masyarakat luas untuk memperkukuh bangsa Indonesia dengan kayanya kosakata dalam penggunaan Bahasa Indonesia. Sebagaimana kita ketahui, Bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan yang dapat kita gunakan untuk merekatkan persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia. Dengan menanamkan semangat, masyarakat Indonesia akan lebih menggunakan Bahasa Indonesia dan bisa memilah mana bahasa slang yang baku ataupun dilarang karena berbagai alasan.

Tidak semua kosakata slang berkonotasi negatif, namun kembali pada diri dalam menggunakan bahasa slang sebagai ragam dari Bahasa Indonesia dan dengan menggunakan bahasa slang yang sudah ada dan diakui oleh KBBI menyesuaikan tempat dan kondisi. Tidak ada salahnya juga jika kita menggunakan bahasa pergaulan, justru yang kurang tepat apabila kita mencampur adukkan penggunaan bahasa yang baku dan nonbaku. Bukan tanpa alasan beberapa bahasa slang masuk dalam KBBI karena slang memperkaya khazanah bahasa Indonesia dengan menciptakan sesuatu yang memicu persatuan dengan dasar (1) sebagai keindahan, (2) sebagai kejenakaan, (3) supaya berbeda dengan yang lain, (4) sebagai perbedaan antar kelompok, (5) supaya terhindar dari kata klise, (6) karena kreativitas penggunanya, (7) menarik perhatian, (8) supaya konkret serta padat, (9) meringankan duka atau tragedi, (9) memperhalus kata, (9) mengurangi percakapan yang berlebihan, (10) mempermudah hubungan sosial, (11) untuk berbicara kepada orang yang berbeda kelas sosialnya, (12) untuk keakraban.


Label:

24 Agustus 2021

Dear, Bupati Bondowoso: Peka Dong, Pak!

 


Di masa lalu, pemimpin adalah bos. Namun kini, pemimpin harus menjadi partner bagi mereka yang dipimpin. Pemimpin tak lagi bisa memimpin hanya berdasarkan kekuasaan struktural belaka. Erich Fromm

Saya awali tulisan ini dengan argumentasi monohok dari filsuf sekaligus psikolog yang populer pada abad ke-19 dengan penegasan bahwa pemimpin harusnya bisa menjadi partner bagi yang dipimpin yakni rakyatnya. Seorang pemimpin dipilih bukan hanya sebatas untuk mengisi kursi struktural, tetapi dalamnya ada tugas dan fungsi yang menjadi sebab mengapa struktur itu harus ada dalam sebuah sistem atau yang didalamnya lebih dikenal oleh masyarakat dengan sebutan jajaran pemerintah. Tentunya, semua itu bertujuan tidak lain dan tidak bukan hanya untuk mempermudah dalam menjalankan visi-misi yang akan dicapai dalam sebuah kemajuan daerah.

Pada tulisan kali ini, saya ingin menyampaikan beberapa poin yang menjadi duduk perkara untuk dibicarakan lebih serius dan lebih lanjut dalam  perihal perkembangan dan kemajuan sebuah daerah, terlebih semua ini berkaitan dengan daerah kelahiran saya. Bapak bupati yang saya hormati sebagai pemimpin dan teladan bagi masyarakat di Bondowoso, tentunya kami banyak harapan untuk melihat Bondowoso bisa melesat dan tumbuh lebih baik, Ntah itu secara peningkatan ekonomi masyarakat hingga fasilitas publik yang dapat menunjang untuk kehidupan tatanan sosial masyarakat maju. Jika rakyat memiliki fungsi mengontrol atas suatu kinerja pemerintah, maka melalui tulisan ini saya akan menyalurkan hak saya atas apa yang menjadi perkembangan di kabupaten Bondowoso.

Berbicara Bondowoso, ada banyak hal menarik yang ada di daerah ini, mulai dari jajanan Tapai/tape, nikmatnya kopi yang tergolong dalam java raung ijen hingga kemegahan gunung ijen  yang mulai dilirik oleh para pelancong domestik ataupun mancanegara sekalipun kalah start dengan kabupaten tetangga dalam hal mempromosikannya. Secara letak geografis kabupaten Bondowoso tidak memiliki laut dan bukan juga jalan utama yang menghubungkan antar provinsi seperti jalan yang dimiliki kabupaten lain yang termasuk daerah tapal kuda. Dan perlu digaris bawahi bahwa tape, kopi dan beberapa tempat wisata belum mampu mendongkrak kemajuan kabupaten Bondowoso khususnya pengaruhnya pada PAD. Pada tahun 2019/2020 provinsi Jatim mengeluarkan rilis tentang Data terakhir yang diterima oleh Badan Statistik Nasional (BPS) terkait sepuluh kabupaten termiskin termasuk di dalamnya ada kabupaten Bondowoso. (baca: jatim.bps.co.id).

Permasalahan yang terlihat bukan hanya dari suguhan data yang dikeluarkan olej BPS provinsi Jawa Timur. Dalam beberapa judul berita pun Bondowoso benar-benar menjadi perhatian serius (ditelusuri melalui realita nyata). Yang dimaksud perhatian disini bukan karena kabupaten ini berkembang seperti kabupaten tetangga dan daerah-daerah lain atas pencapaian prestasi yang mampu membangkitkan pariwisata dan memajukan setiap desanya.  Tapi lebih pada kesimpulan kata “miris” ketika kita berbicara tentang perkembangan di kabupaten Bondowoso. Ingatan saya tersusun baik tentang pelanggaran kode etik Kadispora lewat video tik-toknya, lapak PKL di alun-alun ki Ronggo yang tidak tersentuh pemerintah,  chatingan vulgar pak Sekda dengan bu dokter, sekolah yang dijadikan tempat Isolasi COVID-19, belum lagi masalah pengangguran yang makin tahun makin tinggi dengan bursa kerja yang juga ditiadakan. Logikanya, ketika pengangguran meningkat otomatis kecenderungan masyarakat menjadi miskin juga akan meningkat. Tingginya angka pengangguran berbanding lurus dengan angka kemiskinan. Berdasarkan data BPS Bondowoso jumlah penduduk miskin di Kota Tape pada tahun 2020 sebanyak 110.240 orang. Padahal pada 2019 lalu, penduduk miskin tercatat 103.330 penduduk atau naik hampir 7 ribu orang. Sedangkan jumlah pengangguran di Bondowoso pada tahun 2019 sebanyak 13.797 orang. Pada tahun 2020, angka tersebut berubah menjadi 19.473 orang, atau meningkat 5.676 orang dengan angka Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,13. Dan beberapa hari yang lalu kembali terjadi hal yang menurut saya juga keterlaluan yakni warga kelurahan Kota Kulon, Kabupaten Bondowoso swadaya memperbaiki jalan rusak. Warga disana bosan menanti janji pemerintah membenahi infrastruktur namun tak kunjung terealisasi alasan pemda tidak memperbaiki karena tidak memiliki anggaran. Sebagai penggerak perubahan yang menjadi sentral, tentunya kejadian ini menjadi raport merah atas kinerja bapak K.H Salwa Arifin selama menjabat Bupati di Kabupaten Bondowoso. 

Tidak baik rasanya jika pada tulisan ini hanya monoton menjelaskan tentang keterpurukan di suatu daerah. Satu sisi saya mengakui betul tentang penemuan-penemuan objek wisata baru yang ada di kabupaten Bondowoso yang berhasil diorbitkan oleh bupati Bondowoso selama masa jabatannya. Hal tersebut seperti menjadi suatu harapan baru yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mendongkrak pendapatan perekonomian masyarakat  di kabupaten. Tetapi perlu penegasan bahwa pemerintah tidak cukup hanya bisa mengorbitkan tempat-tempat pariwisata yang baru dan potensial, namun juga harus dikonsep dengan pengelolaan yang jelas. Bondowoso memiliki pariwisata alam yang sungguh luar biasa, dan beberapa artikel yang saya baca sudah banyak yang menyanjung keindahannya yang bahkan mampu memikat daya tarik setiap wisatawan yang akan berkunjung. Pada tahap ini tentu dibutuhkan yang namanya saling bersinergi dan bekerja sama antara pemerintah dan masyarakat. Mendidik masyarakat menjadi kreatif dan inovatif agar bisa menjadi pelaku sekaligus pengelola wisata yang handal. Apalagi program BONDOWOSO MELESAT yang diusung pemerintah secara penjelasan visi-misi sudah sangat menjanjikan, tinggal bagaimana pelaksanaannya yang sungguh-sungguh. Dengan begitu Pendapatan Anggaran Daerah (PAD) akan mengalami peningkatan yang bisa digunakan untuk membantu pembangunan dan kemajuan daerah di kabupaten Bondowoso. Kembali lagi pada kutipan Erich Fromm “Di masa lalu, pemimpin adalah bos. Namun kini, pemimpin harus menjadi partner bagi mereka yang dipimpin. Pemimpin tak lagi bisa memimpin hanya berdasarkan kekuasaan struktural belaka” artinya kepekaan bupati dan kapasitasnya sebagai pemimpin yang mampu memberikan dorongan yang hebat dan besar dalam menjalankan serta mendorong suatu misi kemajuan dan kesejahteraan dalam masyarakat suatu tempat. Jadi pemimpin tidak hanya sebatas tertulis dalam kerangka struktur pemerintahan suatu wilayah.


Label:

12 Agustus 2021

Curhat: Pak Menteri, Kami Jenuh !





Pendidikan dan ilmu pengetahuan merupakan unsur penting yang harus ada didalam setiap diri manusia tanpa harus memandang  gender, agama atau stratifikasi sosial lainnya. Siapa aja boleh belajar kepada siapa saja, baik secara teoritis maupun perjalanan empiris seseorang yang bisa dimaknai sebagai suatu pembelajaran dan hikmah. Dalam subjektifitas penulis, memandang fungsi pendidikan akan mengarah pada fungsi membangun serta mengembangkan minat dan bakat individu demi kepuasan pribadi dan kepentingan umum, yang nantinya mampu membentuk karakter sesuai cita-cita dalam karakteristik manusia ber-Pancasila. Hal ini sejalan dengan dengan UU No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa:

“Tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”

Dalam mewujudkan tujuan pendidikan tentu sangat diperlukan perangkat dan pendukung yang benar-benar maksimal menjalankan sistem pada pendidikan tersebut. Akan tetapi pada abad ini kita berada di masa-masa sulit,  mengingat tahun ini adalah tahun kedua sejak wabh COVID-19 mewabah di Indonesia dan saya sebagai seorang siswa pasti merasakan hal sama seperti siswa pada umumnya, yakni sama-sama dalam merasakan jenuh yang luar biasa dengan adanya COVID-19 ini. Pendidikan tahun ini sangatlah berbeda, perbedaannya pun sangat signifikan. Sebagai seorang siswa yang sedang menempuh pendidikan dijenjang sekolah menengah atas (SMA), dalam menerima materi pelajaran harus dikurangi dari segi waktu (jam pelajaran) dan keterbatasan ruang yang hanya mengandalkan perantara aplikasi bernama WhatsApp yang digunakan untuk melangsungkan pembelajaran daring yang dibawakan oleh masing-masing guru mapel setiap harinya.

Seorang guru dengan segala upaya, berusaha agar pendidikan tetap bisa terlaksana meskipun dalam situasi yang saya yakini juga merasakan banyak kesulitan mengingat para guru juga baru pertama kali memiliki pengalaman untuk melaksanakan pembelajaran dengan sistem daring, belum lagi adanya perubahan kurikulum dan metode belajar pun juga harus berubah. Disisi lain siswa mengalami keterbatasan waktu dan ruang, menyebabkan setiap siswa harus berpikir lebih keras yang membuat pikiran manusia harus bekerja dua kali lebih melelahkan untuk memahami setiap materi-materi pelajaran yang ada dengan waktu yang begitu singkat. Belum lagi jika KBM yang berlangsung berjalan dengan tidak efektif, hal demikian semakin membuat proses belajar tidak menemukan maknanya. Keterbatasan waktu dan jarak serta cara penyampaian yang kurang efisien benar-benar membuat siswa jenuh.Yang menjadi kegelisahan saya disini, tentang kapan sekolah bisa buka lagi dan setiap siswa bisa belajar dengan layak dan kondusif. Pandemi memang tidak bisa ditebak arahnya, namun satu hal perlu diketahui bahwa tidak mungkin generasi bangsa Indonesia itu tumbuh dengan cara sistem pendidikan seperti hari ini, bagaimana psikososial dan mental kami ? hal ini yang perlu diperhatikan jika sampai COVID-19 menyebabkan panjangnya waktu pembatasan sosial. Jangan sampai pemerintah lengah dan abai, karena resiko yang ditanggung untuk melahirkan generasi harapan bangsa sesuai tujuan pendidikan nasional akan kecil kemungkinan terealisasi.

Bagaimana dengan Mental kami ?

        Pada bulan Maret 2019, sekolah mulai memberlakukan sistem pembelajaran daring atau online learning dalam strategi belajar untuk menyikapi banyaknya tingkat kasus positif COVID-19. Kebijakan demi kebijakan diambil untuk menangkal Corona Virus mulai dari kebijakan PSBB, PPKM Mikro, PPKM darurat, dan sekarang kita berada di masa-masa PPKM Level 4 yang semua kebijakan tersebut menjadi strategi mengurangi untuk kluster pernyebaran virus selama perjalanan dua tahun lebih sejak munculnya Corona Virus di Indonesia sejak Maret tahun 2019. Namun perlu digaris bawahi, bahwa hal tersebut belum menemukan hasil yang baik dalam menuntaskan kasus positif COVID-19 bahkan rumah ibadah pun ikut-ikutan ditutup akan tetapi hasilnya sama saja bukannya berkurang malah semakin bertambah. Tidak perlu penulis sertakan data, karena setiap media dan bahkan satgas COVID-19 pun menyuguhkan data yang valid.

      Dalam situasi yang genting tersebut, tentunya juga akan berimbas pada dunia pendidikan yang menyebabkan sekolah tidak bisa berfungsi sebagaimana fungsinya. Saya tahu bahwa pemerintah khususnya pak menteri pendidikan mengedepankan kesehatan dan keselamatan peserta didik, keluarga, dan masyarakat secara umum yang pada problem ini masih menjadi prioritas utama yang harus dipertimbangkan selama masa pandemi. Jika pembatasan sosial masih berlanjut dengan jangka waktu yang lama, maka tidak menutup kemungkinan setiap anak bahkan orang dewasa akan mengalami penyakit mental akibat pandemi. Seperti yang disampaikan oleh Hendriati Agustiani seorang pakar psikologi dari Universitas Negeri Padjajaran yang mengatakan bahwa situasi pandemi dapat memunculkan ketakutan yang berlebihan, stigmatisasi dan xenophobia yang merupakan respon terhadap situasi sulit. Diikuti juga dengan kemungkinan adanya perilaku maladaptif, emosi dan reaktif defensive.

        Tidak sampai disitu saja, dengan keadan darurat nasional yang diakibatkan oleh COVID-19 bukan tidak mungkin setiap siswa dan bahkan orang tua akan mengalami turunya motivasi dalam semangat belajar dan laku hidup bagi orang tua. Pada tahap ini perhatian mental juga perlu menjadi titik yang harus diperhatikan. Selain itu kegiatan belajar dari rumah berkaitan dengan ketidakpastian dan kecemasan dikarenakan pembatasan terkait aktivitas fisik dan kesempatan bersosialisasi di sekolah. Rutinitas dapat terganggu karena tidak adanya kegiatan yang terkonsep dan tersistem seperti ketika setiap siswa bisa belajar di sekolah. Siswa akan cederung menjadi irritable (lekas marah), clingy (melekat), mencari perhatian dan lebih tergantung pada orangtua karena adanya pergeseran rutinitas atau dalam kata lain jika pandemi berlanjut dalam jangka waktu yang lama maka akan menjadi kecenderungan yang menyebabkan mengalami penyakit mental yang juga akan menjadi ancaman yang tidak kalah bahaya nya dari COVID-19.


Tentang Penulis:

Penulis bernama lengkap Vania Callista Artanti, seorang siswi di SMA Negeri 1 Prajekan dari Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur. Penulis lahir pada tanggal 01 Agustus 2004. Saat ini aktif sebagai penulis opini di beberapa media.



Label:

17 Juli 2021

Vaksin Menyebabkan Jatuh Cinta, Fvksin ?



“Siapa bilang vaksin menyebabkan kematian, kejang-kejang, berbusa, dan hal tidak wajar yang dialami oleh tubuh setelah di suntik cairan vaksin. Kalau boleh jujur, saya lebih takut jarum suntiknya yang bikin nyutnyutan dan pemberitaan gawat di media sosial terkait efek vaksin daripada ketakutan pada vaksin itu sendiri. Ayo vaksin kawan, dan selamat jatuh cinta untuk keselamatan bersama” - merawatingat

Sebelum masuk pada inti pesan tulisan, ada baiknya pembaca terlebih dahulu memahami pengantar yang sedang kalian baca dimulai dari paragraf ini. Setiap manusia pasti memiliki rasa cemas dan khawatir sebab manusia memang diberikan kesanggupan akan hal itu. Namun, apakah hidup dalam kecemasan dan kekhawatiran merupakan hal yang baik bagi kesehatan akal dan fisik seorang manusia? Tentu tidak, justru rasa cemas dan khawatir berlebih merupakan hal yang perlu kita hindari karena penyakit yang sebenarnya membuat orang sakit justru disebabkan oleh pikiran dan ketakutan-ketakutan berlebih yang di dalam pikiran manusia.  Didalam tulisan ini akan sedikit banyak membahas tentang vaksin sebagai sebuah solusi untuk besarnya kasus positif Covid-19 karena beberapa diantara kita mengalami kecemasan dan kekhawatiran terkait adanya wajib vaksin. 

Perlu saya tegaskan bahwa judul diatas bukan maksud untuk mendiskreditkan vaksin ataupun mengajak setiap orang untuk tidak melakukan vaksin apalagi niat hati ingin mem-propaganda masyarakat agar tidak patuh pada himbauan pemerintah terkait kewajiban vaksinasi. Tujuan vaksin mengacu pada mengurangi dampak pandemi Covid-19 menuju keselamatan bangsa Indonesia, karena perjalanan panjang bangsa Indonesia menghadapi pandemi sejak tahun lalu masih pada tahap transisi, jadi wajar jika persentase orang yang terjangkit Covid-19 jumlahnya naik turun. Karena negara manapun di dunia internasional dalam penanganannya juga dalam fase tahapan transisi, karena Pandemi Covid-19 masih terbilang baru yang baru muncul di abad dua puluh.

Lantas apa itu Fvksin, Definisi Vaksin dan Fvksin (seperti tulisan pada judul) adalah dua pengertian yang berbeda. Maka tidak dianjurkan jika pembaca hanya memaknai judul tanpa terlebih dahulu membaca tulisan ini secara keseluruhan. Pasti pembaca akan bertanya apa sih Fvksin? Jika pembaca mengenal vaksin seperti pada umumnya bahwa dalam vaksin terdapat zat atau senyawa yang berfungsi untuk membentuk kekebalan tubuh terhadap suatu penyakit. Vaksin terdiri dari banyak jenis dan kandungan, masing-masing vaksin  dapat memberikan penggunanya perlindungan terhadap berbagai penyakit yang berbahaya

Vaksin mengandung bakteri, racun, atau virus penyebab penyakit yang telah dilemahkan atau sudah dimatikan. Saat dimasukkan ke dalam tubuh seseorang, vaksin akan merangsang sistem kekebalan tubuh untuk memproduksi antibodi. Proses pembentukan antibodi inilah yang disebut imunisasi. Seperti apa yang sudah dijelaskan oleh Kementerian Kesehatan untuk definisi vaksin. Sedangkan Fvksin adalah sejenis berita-berita bohong (hoax) yang dikeluarkan oleh media dengan tujuan menimbulkan huru-hara, carut-marut, kegaduhan, anomali negatif, dan bahkan puncaknya bisa mengancam kestabilan dalam kehidupan bernegara karena berita bohong perngaruhnya sangat besar bagi kesadaran kita sebagai bangsa yang menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan bersama. Fvksin juga serupa vaksin namun komponen unsurnya berbeda. 

Didalam Fvksin terdapat bakteri, virus, dan racun yang belum dinetralisir namun bentuknya bukan dalam bentuk cairan atau segala bentuk dalam pengertian medis yang disuntikkan pada tubuh, tetapi Fvksin dalam bentuk berita-berita media yang ketika dibaca menimbulkan ketakutan, rasa khawatir berlebih, cemas yang terlalu hingga sugesti yang mengganggu dan aneh-aneh. Apalagi jika Fvksin ditelan mentah-mentah tanpa filter kebijaksanaan (menggunakan akal sehat dari pengetahuan yang kita punya).

Setiap masyarakat berhak menolak untuk di vaksin dengan alasan tertentu dan juga dengan cara yang baik. Jangan sampai di-Lebaykan terkait dengan pengertian, tujuan dan dampak yang akan terjadi pada manfaat vaksin itu sendiri. Setiap individu yang tinggal di negara merdeka pun boleh mempertanyakan kebijakan terkait vaksin namun jangan sampaikan keluar dari subtansi yang sebenarnya apalagi sampai membesar-membesarkan dampak negatif dari vaksin yang hanya akan meracuni psikis publik dan menyebabkan sakitnya pikiran dan fisik (kepikiran). 

Kita  bisa lihat secara keseluruhan di beberapa media online maupun yang cetak betapa getolnya pemberitaan dampak vaksin pada seseorang yang mengalami kejang-kejang bahkan ada yang meninggal dunia. Yang perlu kita telaah kembali, berapa banyak orang meninggal sehabis divaksin? Dan seberapa banyak orang yang tidak mengalami gejala kejang-kejang dan kematian setelah di vaksin? Semisal yang mengalami kematian setelah vaksin ada tiga orang, ntah kematian tersebut disebabkan oleh vaksin atau penyakit yang diderita sebelumnya atau sudah takdir ajalnya sedang menghampiri. Hal itu sangat jarang dinalarkan secara akal sehat oleh pembaca awam yang kurang hati-hati menyerap informasi hingga mengakibatkan rasa cemas sehabis membacanya. 

Disisi lain media menggiring opini publik seakan-akan vaksin menyebabkan kematian dengan polesan judul dan tagline yang menarik untuk dibaca. Biasanya judul yang marak dibuat berbunyi begini “Seorang warga di desa X meninggal setelah di Vaksin” sebagian orang yang tidak bisa mencerna informasi dengan pengetahuan tentunya akan menyimpulkan bahwa Vaksin menyebabkan kematian seseorang, bagi yang membaca dengan mengenal pengetahuan ia akan cenderung menggunakan alat analisisnya sebelum menyimpulkan. Ingat kata “setelah” pada judul artinya seseorang meninggal sehabis melakukan vaksin, jika kalian baca dengan memaknai didalam setiap berita tidak menjelaskan secara utuh terkait kinerja vaksin sampai bisa membunuh. Dan satu lagi, jangan suka menyimpulkan sesuatu dengan responden berskala kecil kemudian mengambil suatu langkah keputusan dan tindakan. 

Logika sederhananya, seseorang perempuan menjalin hubungan asmara dengan seorang laki-laki kemudian putus karena laki-lakinya selingkuh, dilain momen si perempuan menjalin kembali dengan laki-laki yang berbeda tapi akhirnya putus juga karena si laki-laki sudah bosan menjalin hubungannya. Kemudian perempuan tersebut mengalami prustasi karena selalu gagal kemudian menyimpulkan bahwa semua laki-laki sama saja (sama-sama brengsek, misalnya), bayangkan ada ribuan juta laki-laki yang dia anggap sifatnya sama dengan mantannya (suka gagalin  hubungan yang sudah serius), padahal tidak semua laki-laki begitu. Sama halnya dengan vaksin, hanya saja habis di vaksin dia meninggal dunia karena sudah waktunya atau memang dia tidak mengikuti saran dokter untuk perlakuaan setelah vaksin, jadinya mengalami hal demikian. Jika benar begitu  bukan karena vaksinnya tetapi karena kecerobohan manusia. 

Saya sudah dua kali menjalani vaksin, sebelum proses itu berlangsung saya terlebih dulu ditanya terkait riwayat penyakit dan juga terkait konsumsi obat-obat tertentu dalam jangka panjang sekaligus beberapa instrumen pertanyaan yang perlu dijawab sebelum di vaksin, jika sudah maka tinggal menunggu informasi lanjutan apakah layak di vaksin atau tidak. Secara subjektif hal tersebut sudah maksimal dalam penanganan Covid-19 sekarang yang menjadi masalah adalah kesadaran dari setiap diri.

Ada banyak orang yang setalah vaksin tetapi tidak mengalami kejang-kejang dan kematian, atau hal buruk lainnya sekalipun efek vaksin macam-macam tapi tidak se-lebay media-media cari sensasi yang menimbulkan keragu-raguan. Justru saya habis Vaksin itu mengalami beberapa gejala berbeda, dan sampai hari ini berjalan di hari ketiga dengan gejala yang berbeda-beda. Dihari pertama saya merasakan suatu efek kekaguman, ntah mengapa selepas saya pulang dari tempat vaksin di salah satu tempat di Kuta, tiba timbul rasa jatuh cinta. Silahkan baca prosa bukan prosa yang saya tulis semoga dapat menguatkan kepercayaan pembaca untuk segera di vaksin. Ayo vaksin, tolak fvksin. Jangan terlalu seriuss ahhh


Prosa: Vaksin Menyebabkan Jatuh Cinta

"Alasan tidak berdaya dalam ekspresi cinta" - Jalaluddin Rumi 

Aku bingung memulai kalimat ini dari mana, tau sendiri kan? Menjelaskan cinta itu tidak segampang menjelaskan satu tambah satu sama dengan dua (1+1=2) betapa cinta itu kompleks dan absurd apalagi untuk dilogikakan dengan segenap tetek bengek rasionalitasnya, sekali lagi tak segampang itu wahai pembaca yang budiman. Namun jangan kecewa, saya akan tetap berusaha dengan segenap tujuan baik menceritakan pengalaman ini. 

Kita mulai dengan kaki yang melangkah ketika pagi itu datang, aku datang ke sekolah dengan kesepakatan dengan beberapa rekan kerja untuk melakukan vaksin dengan surat pengantar dari sekolah tampat dimana saya mengajar, karena malam hari sebelumnya kita telah terlebih dahulu sepakat untuk datang lebih pagi kesekolah dalam rangka berangkat bersama-sama ke tempat pelaksanaan vaksin yang diselenggarakan oleh Diskes setempat. 

Bisa dibilang itu rekor pribadi pertama saya di tahun 2021 bahwa saya orang yang bisa datang lebih pagi tanpa identik dengan kata terlambat dan tepat jam 07.00 kita segera berangkat ke tempat vaksinasi yang terletak di pusat mall dan hotel. Seperti pelaksanaan pada umumnya terjadi suatu antrean yang mengharuskanku menunggu giliran, akupun menunggu dengan menenangkan pikiran dan mental (karena aku takut suntikan). Namun vaksin bukanlah hal yang perlu kita ruwetkan ataupun suatu momok masalah, yang terpenting saya mendapatkan vaksin dengan tujuan memutus penyebaran virus yang lagi booming saat ini (covid-19), tujuan yang kedua sebagai bentuk kepatuhan saya sebagai warga negara untuk menjunjung tinggi keselamatan bersama apalagi kapasitasku sebagai seorang pendidik, setidaknya bisa memberikan contoh yang baik dibalik tupoksiku sebagai pengajar yang bisa dijadikan hal-hal untuk bisa diteladani (meskipun sedikit). 

Sebelum suntik-menyuntik yang disebut vaksinisasi terjadi, sengaja agar diri enggan dan tahan diri untuk membaca berita-berita di media, bahkan hanya untuk sekedar mencari tahu tentang persiapan vaksin akupun cenderung menutup diri sebab bukan manfaat vaksinnya yang diberitakan tetapi tentang kematian akibat vaksin yang menjadi trending topic seperti kejang-kejang akibat vaksin dan serupanya yang menjadi kesan negatif tentang pengertian vaksin. Ada hal menarik dari sekedar vaksin dan gejalanya, aku lebih suka menyempatkan diri membaca buku Raditya Dika daripada berita-berita yang menimbulkan suatu ketakutan yang berlebih. Mobil medispun tiba, artinya vaksin akan segara hidup di sel-sel darahku untuk menangkal Covid-19. Petugas kesehatan keluar dari mobil Diskes dengan membawa peralatan medis dalam penanganan peserta vaksin, namun disatu sisi sorot mataku nggak bisa teralih dan mulai terjangkit gemulainya lambaian tangan dan matanya yang bulat bak rembulan aduhai syahdu bukan main ya Tuhan, dan ini benar-benar seorang perempuan yang menawan. Salah satu petugas kesehatan datang dengan bulu mata yang indah, kulitnya yang bening dan segenap kemurahan hati serta tentang haluku pada senyumnya yang terhalang (senyumnya terhalang oleh masker bewarna putih yang dia pakai untuk menutupi jantung dan hatinya) dan aku mulampaui halusinasi dalam bayang-bayang. Astaga, ini momentum penting bagi laki-laki kurang ajar dengan sagala kegenitannya segenap kesanggupannya untuk jatuh hati sebelum mengenal dirinya bahkan namanya saja belum tahu. Tapi ini suatu hal yang wajar (namun jangan keseringan, bahaya), kamu tau apa yang kualami sebenarnya sudah dijelaskan oleh komedian yang sekaligus penulis kreatif sebelum aku berada di posisi ini, dia bilang begini: Cara dia ngelihat cinta akan berbeda semenjak patah hati itu. Aku ini habis patah hati, dengan segenap tenaga dan pikiran melupakan asmara yang telah sirna dan aku yakin yang sirna akan terganti dengan hal yang baru dan yang lebih berarti. Hari ini Tuhan lagi-lagi memberikan makna senada dengan lagu Banda Neira kalau ngga salah begini liriknya:

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti. Yang hancur lebur akan terobati. Yang sia-sia akan jadi makna. Yang terus berulang suatu saat henti. Yang pernah jatuh 'kan berdiri lagi. Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Seakan-akan dia adalah ganti dari apa yang telah hilang dan telah sirna. Sejenak aku buang pikiran tegangku menyambut vaksin ini. Aku lupa akan gejala vaksin dan segala carut-marut tentang tanggapan nitijen akibat pemberitaan Hoax itu. Yang jelas, aku sedang mengalami gejala sebelum vaksin itu mengidap di tubuh ini. Setelah sekian menit mengantre, tiba giliranku di hadapannya, dan dialog pun terjadi, apa anda pernah memiliki riwayat sakit ? ujarnya sambil menatap mata beberapa detik dalam pertanyaannya, dan lalu aku menjawab dengan kalimat agak-agak “Ada mbak, saya sakit hati dan kecewa pada masa lalu”, sontak dia kembali menjawab “serius, saya bertanya mas” lalu kemudian saya kembali menanggapi kalimatnya “Aku serius mbak, tapi tau nggak? Bahwa yang serius terkadang tidak bisa menyelesaikan masalah” lalu kemudian dia tertawa dan kembali menanggapi “benar juga mas, itu gak salah. Kalimatnya keren. Langsung vaksin saja ya, mas sehat cuma sakit hati pada masa lalu saja” kembali saya menjawabnya “silahkan mbak. suntik saja, saya tidak lagi merasakan sakit hati pada masa lalu karena masa depan dihadapan saya”. Skip saja dialog yang terjadi diantara aku dan dirinya. Vaksin pun berlangsung dan malam harinya memang sedikit merasakan lelah dan banyak mengeluarkan keringat namun setelah itu tidak lagi ada masalah serius yang menimpa tubuh saya, yang terjadi justru nilai-nilai cinta itu mulai ada. Pertama saya cinta pada keselamatan bersama, kedua saya cinta pada petugas kesehatan yang sepenuh hati berjibaku membantu masyarakat untuk melakukan vaksin. 

Perlu digaris bawahi, konteks ini bukan tentang cinta untuk saling memiliki ya, sebab itu beda definisi. Jadi secara kesimpulan vaksin tidak menyebabkan kematian, buktinya saya baik-baik saja seperti kebanyakan orang pada umumnya yang melakukan vaksin.  Justru berita bohong terkait efek samping vaksin yang menyebabkan kematian justru itu yang menyebabkan penyakit berbahaya yang sebenarnya. Pertanyaannya begini, Benarkah pikiran menyebabkan penyakit? Dikutip dari Halodoc, bahwa pikiran bisa mempengaruhi kondisi tubuh yang menyebkan penyakit. Pikiran seseorang bisa menyebabkan munculnya gejala atau perubahan fisik pada tubuhnya gambaran sederhana dari kondisi ini adalah saat seseorang merasa sangat takut dan tertekan, ketika hal itu terjadi maka seseorang akan mengalami gejala berupa detak jantung menjadi cepat, mual hingga muntah, sakit kepala, sakit perut, hingga nyeri otot. Kondisi-kondisi tersebut adalah penyakit fisik yang disebabkan oleh pikiran. Jadi, hati-hati dalam membaca berita terkait efek samping vaksin yang terlalu di dramatisir karena kepentingan yang justru jika hoax ditanggapi serius hal tersebutlah yang menyebabkan penyakit pada diri kita. Vaksin itu sehat, yang bahaya itu Fvksin (berita bohong) yang hanya akan  merusak segalanya.


Label: